KARAKTER PEMIMPIN : PENDIDIKAN KARAKTER SEJAK DINI

By: TalentaKasih

Feb 22 2013

Tag:,

Kategori: management

Tinggalkan komentar

Aperture:f/4
Focal Length:28mm
ISO:800
Shutter:1/50 sec
Camera:Canon EOS 1100D

Oleh : Harrista Adiati, M.Psi, Psikolog

Dalam hidup berbangsa dan bernegara seringkali kita jumpai berbagai macam karakter pemimpin, ada yang cenderung mementingkan kepentingan diri sendiri dan golongannya, ada yang sulit mendengarkan suara rakyat, ada yang tinggi hati. Ada pula pemimpin yang rendah hati, mau mendengarkan orang lain, mau berjuang untuk kepentingan rakyat, dan lain sebagainya. Tentu saja karakter yang nampak saat ini bukan karena terbentuk baru kemarin sore, namun sudah mulai dibentuk sejak dini terutama dari lingkungan keluarga. Berikut adalah sharing pengalaman saya sebagai Psikolog yang seringkali menghadapi berbagai macam persoalan seputar karakter, perilaku dan keluarga.

Dalam praktek kerja saya sehari-hari sebagai psikolog, seringkali menjumpai klien anak yang dikeluhkan oleh orang tuanya karena dianggap bermasalah baik di rumah maupun ketika di sekolah. Acapkali orang tua mengeluhkan kalau anaknya terlalu pasif, harus menunggu disuruh, malas belajar, kalau dinasihati marah dan maunya seenaknya sendiri. Keluhan macam ini sering dijumpai pada klien yang masih usia kanak-kanak maupun remaja. Keluhan yang disampaikan cenderung mirip satu sama lain.

Berprinsip pada pendekatan psikologi anak dan remaja, saya tentu saja juga menggali informasi mengenai suasana di dalam lingkungan terdekat anak, yaitu keluarga. Ada beberapa hal yang saya temui sebagai suatu kesimpulan refleksi atas pengamatan saya. Pertama, klien anak dengan gaya komunikasi orang tua yang cenderung satu arah (instruktif) atau seringkali disebut gaya otoriter. Segala sesuatunya, anak harus menurut perintah orang tua, baik dalam hal bangun tidur, mandi, makan, dan segala aktivitas sehari-hari, orang tua berdalih hal ini dilakukan supaya aktivitas sepanjang hari lancar tanpa harus ada hal-hal yang bisa mengganggu kelancaran aktivitas seisi rumah. Anak tidak diberi kesempatan untuk berlatih dan mencoba. Contohnya, anak selalu disuapi, padahal ia sudah cukup mampu untuk berlatih makan sendiri, kata orang tuanya, “Nanti, kelamaan kalau dia makan sendiri dan malah jadi kotor serta berantakan.” Suatu saat anak ini mencoba berlatih dan memang membuat sekitarnya kotor dan berantakan, bukannya mendukung dan membimbing, orang tuanya malah marah dan menegur sang anak.

Kedua, cerita lainnya dapat dijumpai pada kisah klien saya yang selanjutnya, anak ini cenderung lekat sekali pada ayah dan ibunya. Cenderung kurang mandiri, kurang mau berusaha, ingin selalu dibenarkan dan manja. Apabila anak ini tanpa sengaja terjatuh, ayahnya akan bilang, “Aduh Adek, kasihan, jatuh ya… lantainya sih.. terlalu licin.. sini Papa pukul ya lantainya supaya tidak ganggu Adek lagi.” Orang tua selalu memenuhi keinginan anak dan tidak menegur jika sang anak berbuat salah. Pola asuh ini dapat digolongkan sebagai pola permisif. Biasanya, pada kondisi seperti ini, orang tua mempunyai kesibukan yang sangat padat, waktu dengan anak terbatas sehingga sebagai kompensasi rasa bersalahnya pada anak, ia akan memberikan apa saja yang anak inginkan.

Pada pengalaman saya dengan klien saya yang pertama maupun kedua di atas menghasilkan karakter anak yang tentu saja khas. Pada klien pertama, dengan orang tua yang bergaya otoriter, segala sesuatunya penuh dengan aturan dan kedisiplinan yang sangat ketat, punishment sangat terasa jika terjadi pelanggaran, fleksibilitas kurang, emosi yang terbangun di dalam keluarga cenderung negatif, dan kurang adanya senyuman serta suasana yang hangat, anak tidak diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya. Anak menjadi takut mencoba, takut salah, takut gagal karena akan dihukum, anak kurang kreatif, cenderung pasif karena terbiasa dengan jadwal ketat dan instruksi yang detil, sulit untuk tampil menjadi pemimpin karena sudah terbiasa dituntun dan dipimpin oleh orang tuanya atau sosok superior (guru, atau orang lain yang lebih kuat/ dominan).

Tentang klien saya yang kedua, dengan orang tua bergaya permisif. Segala sesuatu diberikan bahkan anak tidak meminta pun mainan yang mahal dan banyak dibelikan tanpa ada konsekuensi apa pun. Anak dengan sangat mudah mendapatkan apa saja yang diinginkan tanpa dia harus berusaha terlebih dahulu. Anak akan terbiasa dimanja dengan lingkungan, ketika anak masuk ke sebuah lingkungan yang menuntutnya untuk belajar, bekerja dan berupaya maka anak ini akan kesulitan menyesuaikan. Ia hanya akan memikirkan keinginannya sendiri dan dengan mudah akan menyalahkan lingkungan, karena sudah terbiasa sejak kecil lingkungan yang dipersalahkan oleh orang tuanya, sementara anak tidak dibimbing untuk menyadari dan meminta maaf atas kesalahannya. Anak pun tidak terbiasa untuk berupaya, berjuang dan bekerja keras.

Biasanya orang tua datang kepada psikolog jika anaknya dianggap ‘bermasalah’ (istilah yang sering dipakai orang tua kepada anaknya), saya seringkali mengedukasi kepada para orang tua bahwa lebih baik menggunakan istilah anak yang ‘membutuhkan perhatian’ (tentu saja istilah ini lebih manusiawi dan sugestif). Lalu kalau anaknya baik-baik saja, orang tua diam saja? Apa yang perlu dilakukan orang tua?

Klien ketiga saya ini, sangat berbeda. Klien anak, dengan pola asuh yang demokratis, artinya orang tua memberikan fleksibilitas dan kesempatan bagi anak untuk menyampaikan perasaan dan pendapatnya. Orang tua juga menanamkan nilai-nilai kedisiplinan yang tegas dengan melibatkan anak untuk belajar sebab akibat suatu perilaku supaya anak paham mengapa ia boleh atau tidak boleh melakukan sesuatu. Penerapan reward dan punishment pun lebih manusiawi. Dalam perkembangannya saat ini istilah punishment mulai tidak digunakan lagi dalam pendampingan karakter, lebih sering menggunakan istilah konsekuensi. Konsekuensi merupakan hal-hal yang harus dilakukan atau diterima anak apabila tidak mematuhi aturan tertentu, dan tentu saja diberitahukan sejak awal sehingga anak pun memahami mengapa konsekuensi tersebut diberlakukan. Orang tua pun mendorong anak untuk mencoba, jika anak melakukan kesalahan orang tua memberikan dukungan dan mengajak anak untuk bangkit kembali, anak pun diajari untuk meminta maaf jika berbuat salah. Dengan kebiasaan seperti ini membuat anak tahu mana yang benar dan salah. Terbangun kemauan yang kuat untuk berupaya dan berjuang, tidak mudah putus asa, mau mendengarkan orang lain karena ia belajar dari orang tuanya bagaimana orang tuanya mendengarkan isi hatinya. Terbangun kedekatan dengan orang tua secara proporsional sehingga orang tua mudah untuk menanamkan nilai-nilai moral yang disertai dengan keteladan dari orang tua. Anak berprestasi di sekolahnya serta dapat berinteraksi dengan baik di lingkungan. Jiwa pemimpin yang seperti inilah yang kita harapkan mampu membawa bangsa dan negara kita menuju kehidupan yang lebih baik. Ternyata karakter seorang pemimpin dapat dibentuk sejak ia kecil oleh orang tua dna keluarganya. Semakin banyak orang tua yang menerapkan pengasuhan yang tepat ini maka akan muncul bangsa yang berkarakter pemimpin. Orang tua perlu menimba ilmu lebih dalam terkait pengasuhan pada anak supaya terbangun karakter positif demi kemajuan bangsa.

Selamat membentuk karakter pemimpin pada diri anak-anak Anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: