BELAJAR DARI PARA DABBAWALA

By: TalentaKasih

Feb 22 2013

Kategori: management

Tinggalkan komentar

mumbai atraction

Oleh: Antonius Irvinto Dobiariasto

Beberapa waktu lalu saya diminta untuk memberikan sebuah pengantar dalam proses pembuatan misi organisasi. Sebelum pelaksanaan, saya diajak diskusi dan diminta membaca sebuah buletin dari Harvard University yang mengisahkan tentang usaha mengantarkan makan siang di Mumbai yang dilakukan oleh dabbawala. Dari mana asal muasal dabbawala?

Akhir abad ke-19, Mumbai merupakan pusat perdagangan yang sedang berkembang. Di sana banyak pebisnis Inggris serta India yang harus bepergian cukup jauh ke kantor mereka. Transportasinya dikenal lambat, dan jumlah restoran sedikit serta letaknya pun berjauhan. Untuk makan siang, orang sangat menyukai masakan rumah, maka pelayan dipekerjakan untuk mengantarnya dari rumah sang majikan ke kantornya. Karena mencium adanya peluang bisnis, seorang pengusaha mendatangkan pemuda pengangguran dari desa dan memulai jasa pengiriman rutin dari rumah ke kantor. Dari awal yang kecil ini, dimulailah sebuah bisnis yang maju pesat.

Saat ini di Mumbai memang telah muncul banyak ragam restoran, tetapi makanan olahan rumah masih lebih murah dan populer. Selain itu, banyak orang memiliki masalah kesehatan dan perlu diet khusus. Yang lain-lain harus berpantang karena alasan agama. Beberapa orang, contohnya, berpantang makan bawang merah, sedangkan yang lain tidak makan bawang putih, tidak boleh makan garam, dll. Banyak makanan restoran menggunakan bahan-bahan tersebut, maka pengiriman dari rumah ke kantor adalah solusinya. Sistem di dabbawalas telah berkembang selama bertahun-tahun, namun hanya sedikit perubahan, berkisar pada kekuatan kerja sama tim yang kuat dan manajemen waktu yang ketat dalam mengirimkan makanan dari pintu ke pintu di seluruh kota.

Apa yang kemudian dapat kita pelajari dari para dabbawala ini adalah

1. Gairah yang tinggi

Dabbawala memiliki sistem pengiriman yang relatif sederhana, hanya berubah sedikit, kecuali dalam skalanya. Sekarang, lebih dari 5.000 pria, serta sedikit wanita, mengangkut lebih dari 200.000 rantang per hari dari rumah-rumah di daerah mereka ke kantor-kantor yang tersebar di kota. Untuk melayani daerah dalam radius sekitar 60 kilometer, beberapa dabbawala berjalan kaki dengan mengangkut 30 sampai 40 rantang dalam gerobak, sedangkan yang lainnya menggunakan sepeda atau kereta api. Apa pun caranya, mereka menyampaikan kiriman yang tepat kepada orang yang tepat pada waktu yang tepat. Malah, konon mereka memiliki angka kesalahan 1 berbanding 16 juta pengiriman! Mereka jelas memiliki gairah yang luar biasa untuk mencapai hasil tersebut. Para dabbawala telah membuat diri mereka menjadi sumber inspirasi dari banyak pihak. Perusahaan baik dari India atau perusahaan asing, sama-sama penasaran. Tata, Coca-Cola dan Daimler telah mengundang para dabbawalas untuk menjelaskan model kerja mereka untuk para manajer dan karyawannya.

2. Visioner.

‘Delivery food on time, every time,’menjadi arahkan tindakan yang dilakukan para dabbawala. Dari pimpinan sampai yang terbawah mengamini hal tersebut selama lebih dari 100 tahun, dari generasi ke generasi. Tidak ada yang luar biasa pernah terjadi tanpa seorang pemimpin yang bisa mengartikulasikan visi menjadi suatu tindakan. Kita telah melihat hal ini sepanjang sejarah. Dari para dabbawala kita belajar lagi.

3. Jual nilai tambah.

Kekuatan kolektif dari + 5.000 orang dabbawala telah membangun reputasi yang luar biasa untuk kecepatan dan keakuratan pengirimannya. Misi mereka yang sangat sederhana dan telah diwujudkan dalam tindakan yang hampir tanpa cela kini menyebar dengan cepatnya di berbagai lapisan. Namun secara langsung para dabbawala menjual manfaat lain dari hasil kepercayaan masyarakat kepada mereka. Dari awalnya mereka mengantar makanan saja, saat ini mereka juga dipercaya mengantar barang yang ketinggalan seperti gadget mewah dan ponsel, dokumen-dokumen penting, dll. Dan merekapun mendapat tambahan pendapatan dari itu semua.

4. Fokus pada “kecerdikan manusia dan sosial”

Para Dabbawala yang kebanyakan buta huruf memberi kode berupa huruf, nomor, dan warna yang menunjukkan lokasi perumahan asal makanan, stasiun kereta api terdekat, stasiun tujuan, nama gedung, dan nomor lantai gedung saat menyortir rantang. Rantang-rantang yang akan dikirim ke setiap daerah digabung dan ditaruh dalam kotak kayu panjang yang memuat hingga 48 rantang. Sewaktu kereta api tiba, rantang-rantang itu dimasukkan ke sebuah gerbong khusus di belakang gerbong masinis. Lalu, ketika kereta api itu tiba di stasiun pusat, rantang-rantang itu disortir sekali lagi dan diangkut ke stasiun tujuan. Di sana, rantang-rantang itu disortir kembali untuk dikirim langsung kepada pelanggan dengan sepeda atau gerobak. Paul Goodman, seorang profesor psikologi organisasi di Carnegie Mellon University yang telah membuat film dokumenter tentang dabbawalas, menjadikan ini menjadi salah satu aspek penting dari daya tarik mereka untuk pemikir manajemen Barat. “Sebagian besar pendidikan bisnis modern kita adalah tentang model analitik, teknologi dan praktik bisnis yang efisien,” katanya. Para dabbawalas, sebaliknya, lebih berfokus pada “kecerdikan manusia dan sosial”. Dewasa ini, dabbawala telah menggunakan komputer dan ponsel untuk menerima pesanan dan mencatat pembukuan. Tetapi, sarana pengiriman mereka tetap sama. Menjelang makan siang, banyak pekerja kantor yang lapar di Mumbai merasa tenang karena tahu bahwa makanan olahan rumah yang hangat akan segera tiba di meja mereka dan tak semenit pun terlambat!

Para dabbawala menunjukan saya, suasana dari apa yang pernah di tulis pak William Wiguna dalam renungannya,

Dimana kita berdiri tidak penting, yang penting kemana kita akan melangkah …

Siapa diri kita sekarang tidak penting, yang penting kita mau menjadi siapa dengan pribadi yang bagaimana …

Siapa orang tua kita tidak penting, yang penting kita mau menjadi anak yang bagaimana …

Masa lalu tidak penting, yang penting hari ini dan esok …

Bagaimana orang memandang kita tidak penting, yang penting bagaimana kita memandang orang, dan bagaimana kita memandang diri kita sendiri …

Berapa besar kepercayaan orang ditentukan oleh berapa besar kejujuran dan kredibilitas kita …

Buah yang bagaimana yang akan kita petik ditentukan oleh bagaimana kita menanam … Bagaimana sekarang kita berproses inilah yang akan menentukan hasil akhir dari semuanya …

Dari para dabbwala saya ditunjukkan, apakah juga merasakan hal yang sama?

Selalu Baru

Salam perubahan….!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: