Self Management and STOP Procrastination

By: TalentaKasih

Mei 16 2012

Kategori: psikologi

Tinggalkan komentar

Fransisca Harrista Adiati, M.Psi, Psikolog

(pemerhati SDM, psikolog pada RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo)

 

Individu dalam berperilaku akan dipengaruhi dari nilai-nilai yang diyakini. Nilai-nilai ini merupakan hasil penanaman nilai sejak usia dini dalam keluarga, seperti, kejujuran, kerja keras, bersyukur, totalitas. Nilai inilah yang akan mempengaruhi dalam bersikap. Jika nilai-nilai yang diyakininya adalah kejujuran, kerja keras, maka proses intrapersonal di dalam diri individu akan mudah diimplementasikan dalam bentuk sikap dan perilaku sebagai respon dari lingkungan. Sebaliknya, jika nilai tersebut bukan merupakan nilai yang diyakini maka individu tidak akan atau sulit merespon dengan sikap demikian terhadap lingkungan. Penting sekali dalam proses perekrutan karyawan dan  people development untuk menggali nilai yang diyakininya. Jika nilai yang diyakini karyawan sama dengan atau mirip dengan nilai organisasi maka karyawan dan organisasi dapat sejalan harmonis dalam membentuk budaya organisasi.

 

Kaitannya values, attitude, behavior terhadap pengelolaan pekerjaan adalah menentukan cara kerja serta motivasi instrinsik seseorang. Jika values yang diyakini positif maka akan terwujud dalam attitude dan behavior yang positif pula. Dalam bekerja individu akan mencurahkan segenap energinya untuk menyelesaikan dn menghasilkan yang terbaik. Individu yang mempunyai values  seperti kerja keras, totalitas tidak akan kesulitan untuk bereaksi dengan tepat terhadap tuntutan yang ada. Jika values berbeda bahkan bertolak belakang maka akan membutuhkan waktu dalam beradaptasi terhadap tuntutan yang ada, tak jarang akan timbul keluh kesah yang berujung pada menurunnya motivasi. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan diri (self management) untuk menyesuaikan nilai jika antara nilai organisasi dan nilai pribadi berbeda. Individu perlu melihat kelebihan dan kelemahan nilai pribadinya, mengambil makna positif dari tuntutan yang ada dan mengembangkan nilai baru yang lebih berguna bagi diri dan lingkungannya. Tentu saja, hal ini membutuhkan proses dan latihan terus menerus.

Jika individu mampu mengelola dirinya maka ia akan mudah merespon secara tepat terhadap tuntutan pekerjaan yang ada. Setelah mampu mengelola dirinya maka ia akan mampu pula untuk mengelola pekerjaannya. Pengelolaan pekerjaan erat kaitannya dengan procrastination (menunda), seringkali individu tergoda untuk menunda pekerjaan, bukan karena ada hal lain yang lebih penting untuk dikerjakan namun untuk melakukan kegiatan yang bersifat recreational terlebih dahulu dan tidak segera menyelesaikan pekerjaan tang sempat ditinggalkan.

Causes of Procrastination

 

Procrastination atau penundaan dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu, Overwhelming Tasks; tugas yang berlimpah/ terlalu banyak; semua tugas yang ada diminta untuk diselesaikan dalam tenggat waktu yang telah diberikan. Tentu saja diperlukan pembagian atau pengelompokan tugas yang mirip atau yang dapat dilakukan sekaligus, atau kelompok tugas sederhana dan kompleks. Setelah dilakukan pengelompokan, buat tugas menjadi point-point tugas yang lebih kecil supaya menjadi lebih jelas dan tentukan batas waktu pribadi untuk menyelesaikan tugas tersebut, tentu saja sebelum batas waktu yang diberikan oleh organisasi.

Unclear Task Flow; aliran tugas yang tidak jelas, Unclear Goals; tujuan yang tidak jelas, perlu adanya diskusi dan pembuatan alur kerja yang lebih jelas dengan tim kerja, atasan atau customer sehingga alur kerja dan tujuan yang akan dicapai lebih jelas.

Tendency to Overcommit; kecenderungan untuk melakukan secara berlebih. Banyak orang yang sulit untuk mengatakan tidak terhadap setiap tugas atau permintaan yang diberikan kepadanya. Ada kecenderungan ingin menyenangkan semua orang atau karena indiviu tersebut berminat menangani tugas yang diberikan. Masalah timbul jika ternyata tidak ada satu tugas pun yang dapat diselesaikan secara optimal karena terlalu banyak hal yang diminati untuk ditangani. Oleh karena itu diperlukan prioritas dalam penyelesaian pekerjaan dan secara bijak berani mengatakan tidak terhadap tugas yang seharusnya tidak ditangani atau sampaikan bahwa tugas tersebut akan ditangani jika tugas sebelumnya sudah diselesaikan.

Addiction to Cramming; kecanduan untuk memenuhi. Untuk beberapa orang, melakukan sesuatu di menit-menit terakhir memicu adrenalin, hal ini berbahaya karena bekerja di menit-menit terakhir meningkatkan kesalahan yang mungkin saja terjadi, tidak mempunyai waktu yang cukup untuk mengoreksi kesalahan yang ada atau bahkan tidak sempat  menemukan kesalahan yang ada, akan muncul secara tiba-tiba harapan baru yang akan menyita waktu dan justru akan merusak kualitas tugas yang ada. Di lima menit terakhir ada baiknya yang dilakukan adalah memeriksa kembali tugas tersebut, memperbaiki hal-hal yang dapat diperbaiki dan lakukan apresiasi terhadap diri sendiri serta menyiapkan diri terhadap penilaian tugas tersebut.

Fear of Failure; takut gagal, Fear of Change; takut berubah, Unpleasant Tasks; tugas yang tidak menyenangkan, ketiga hal terakhir ini erat kaitannya dengan membangun motivasi intrinsic yaitu motivasi yang timbul dari dalam diri sendiri bukan karena factor eksternal. Berpikir positif dan senantiasa bersyukur adalah upaya yang dapat dilakukan untuk melawan ketakutan ini.

Pengelolaan kerja diawali dari pengelolaan diri dengan kata lain hati yang tenang menghasilkan pikiran yag jernih dan karya optimal.

 

 

Sumber : Mancini, Marc. 2003. Time Management. McGraw-Hill Companies, Inc.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: