Mama, Marah itu Robot

Oleh Fransisca Harrista Adiati, MPsi, Psikolog

 

Anakku, laki-laki, 3 tahun, ceria dan cerdas. Meski masih kecil namun perkataannya terkadang bermakna luar biasa jika kuresapi. Di berbagai aktivitasnya sebagai anak-anak, salah satunya ia menonton tayangan televisi yang menampilkan cerita untuk anak. Suatu saat ia melihat ada tokoh robot, dalam tayangan tersebut, si robot sedang marah-marah kepada lawannya. Anakku memperhatikan tayangan itu, lalu aku pun berkata, Nak, tayangannya diganti saja ya, anak-anak yang gembira. Anakku pun mau.

Suatu saat, ketika aku agak jengkel dengan keadaan rumah yang berantakan karena aktivitas bermain si kecil, tanpa kusadari, raut mukaku menjadi muram, sorot mataku pun memancarkan amarah, tanpa aku berkata-kata, tiba-tiba si kecil mendekatiku dan bilang, “Mama jangan marah ya… kalau marah itu robot.” Spontan saja aku geli mendengarnya dan langsung ku peluk jagoanku. Benar juga ya, anak itu mudah untuk mempelajari sesuatu dan sangat cermat sehingga ia mengingatkanku pada robot yang pernah ia lihat dan sedang marah-marah.

 Kuresapi lagi, seseorang jika marah, memang tidak bisa mengendalikan otaknya untuk berpikir, seperti robot. Ia pun akan bergerak atau menyerang tanpa berpikir lebih jernih, seperti robot yang menambakkan senjatanya kepada musuhnya.

 Jadi, untuk apa marah-marah, kalau marah itu robot.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: