Ginjal Ini Berkah

Oleh Fransisca Harrista Adiati, MPsi, Psikolog

 

Kata banyak orang, aku ini tampan, postur tubuh tinggi dan sempurna, ibarat peragawan yang memesona. Banyak cewek-cewek tergila-gila padaku. Aku anak tunggal. Kedua orang tuaku sangat menyayangiku dan memberikan hampir segala sesuatu yang kuinginkan. Kuliahku di teknik elektro terbilang cukup lancar, meski IP tidak terlalu bagus tapi juga menurutku tidak terlalu jelek hampir separuh jalan lagi aku menyandang gelar kesarjanaanku.

Impianku adalah menjadi bekerja di perusahaan elektro terkenal dan menggapai berbagai macam impianku.

Bisa kubilang hidupku sempurna, ada teman dan sahabat yang senantiasa bersamaku, ada uang untuk jalan-jalan dan biaya hobiku yang suka travelling. Semangat petualang yang ada di dalam jiwaku, tempat petualangan mana saja hampir semua kudatangi bersama teman-temanku.

Hidup yang indah dan sempurna…

Hingga suatu saat, di pagi hari setelah beberapa hari terakhir aku penat dengan tugas-tugas dan project kuliahku, kuterbangun, badanku terasa tidak enak, rasa mual, nyeri di daerah pinggang, segera kuperiksa ke dokter. Tanpa terbayang olehku, aku didiagnosa gagal ginjal. Aku masih terbengong, bagiku penyakit apa itu, dan mengapa bisa berada di diriku. Kaget, tak percaya, mungkin salah diagnosa hiburku. Aku kembali ke rumah, kuanggap ini sakit biasa, mungkin hanya terlalu letih saja. Waktu pun berjalan, bukannya tambah sehat namun kondisiku sepakin parah, menjadi sering sesak nafas dan badan terasa sakit semua dan aku harus menjalani cuci darah untuk menyambung hidupku.

Masih dengan perasaan tak percaya, bingung, shock, sedih, gelisah semua berkecamuk di dalam pikiran dan hatiku. Seminggu dua kali, cuci darah, sudah kejalani beberapa minggu, kurasakan biasa saja, aku masih beraktivitas seperti sedia kala, meski cepat merasa letih, tapi kupaksakan saja. Tak mudah memang untuk melawan tubuh yang semakin lemah ini. Hb ku semakin turun, transfusi pun kulakukan.

Kesal, kecewa, marah pada keadaan, kenapa aku diberi hidup yang gelap seperti ini. Pupus sudah impian-impianku. Serasa awalnya ingin terbang tinggi di langit, sekarang seperti dijatuhkan ke bumi paling dalam. Sakit, takut dan merasa sendiri, itulah yang kurasakan.

Diriku menjadi sering melamun, menyesali hidupku. Ibuku sering menangis melihat keadaanku yang sekarang lebih banyak terkulai di tempat tidur. aku melihat di sorot mata ayahku, serasa ada kegalauan dan kekecewaan yang mendalam, aku anak laki-laki sekaligus anak tunggalnya, anak yang sangat dibanggakan pada awalnya, sekarang hanya seonggok daging yang tak berguna, yang tak bisa membanggakan kedua orang tuaku.

Pribadiku pun berubah, yang awalnya ceria, semangat, sekarang menjadi lebih pemurung, cepat tersinggung. Aku sering marah pada kedua orang tuaku, tersinggung dengan komentar dan tatapan teman-teman yang menjengukku. Kurasa mereka seperti menghinaku. Lebih baik aku tidak bertemu dengan siapapun supaya hatiku tidak semakin hancur. Kebiasaanku berdoa pun sudah tak kujalankan lagi, untuk apa. Mengapa Dia memberiku sakit seperti ini, sudah salah apa aku? Apa dosaku sehingga dihukum seberat ini?

Hari demi hari kujalani dengan meratapi keadaanku. Parah benar-benar parah.

Hingga suatu saat, ibuku yang baik, mengajakku bicara, suaranya yang lembut dan sorot matanya yang syahdu, membuatku merasa sangat tenang. Ibuku memelukku, Ibu sampaikan betapa sayang ia padaku. Bagaimanapun keadaanku bagi ibu aku adalah anaknya yang hebat dan patut dibanggakan. Ibu membantuku melihat bahwa segala sesuatu di muka bumi ini terjadi atas ijinNya. Semua persitiwa terjadi atas rencanaNya dan rencanaNya selalu indah. Jika aku bisa melihat kondisiku dengan jernih maka aku akan melihat kebahagiaan, demikian kata ibuku. Malam itu, ibuku mengajakku berdoa, hal yang sudah lama sekali tak kulakukan. Tiba-tiba ada rasa rindu di hatiku, rindu akan kedamaian dalam doa. Tak terasa air mataku menetes, antara sedih, galau, kesal dan rindu akan kedamaian bercampur menjadi satu. Kusadari bahwa Dia sangat mencintaiku dan mempunyai rencana indah bagiku. Pasti Dia menginginkan aku berbuat sesuatu dengan caraNya melalui sakitku ini. Keesokan paginya aku bangun dengan segar, belum pernah semenjak sakit aku sesegar ini. Kubangkit pelan-pelan, ibuku membantuku membersihkan diri, kududuk dekat jendela, ada pena dan kertas, aku pun mulai menulis sesuatu, dulu kebiasaanku adalah membuat artikel dan mengirimkannya ke majalah-majalah, lumayan aku bisa mendapatkan honor menulis. Lembar demi lembar kutulis, dan jadilah sebuah aliran curahan hatiku dalam menghadapi penyakit gagal ginjal ini. Kuketik dan kukirimkan ke redaksi majalah. Ada semangat untuk membagikan perasaan ini, aku yakin diluar sana ada orang yang mengalami hal yang sama dengan diriku bahkan mungkin lebih parah dan ia membutuhkan dukungan semangat. Mungkin inilah yang Tuhan kehendaki atas diriku agar menjadi penyebar semangat bagi saudara-saudaraku yang lain. Ada sinar semangat yang mulai terbit di hatiku. Terima kasih Tuhan.

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: