SANG PEMIMPIN

Oleh: Antonius Irvinto Dobiariasto

 

Beberapa waktu lalu, saya mengikuti sebuah ibadat arwah, sang suami yang sudah berusia lanjut menceritakan dan mengenangkan kisah dirinya dan almarhum istrinya dalam mengelola rumah tangga. Inti ceritanya adalah ketika anak tidak bisa ‘JADI’ orang, jangan salahkan mereka. Orang tua, terutama peran ayah sebagai seorang pemimpin harus mau menyadari dan mengakui bahwa saat mendidik anak-anaknya tidak bisa menjadi contoh yang baik, kurang bijaksana, tidak bisa dekat dengan anak-anaknya, tindak bisa memberi teladan yang baik atau bertindak yang terlalu emosianal. Akibatnya anak-anak mempunyai karakter yang berbeda-beda. Ada yang pinter, ada yang kaya dan dermawan, ada yang pelit namun hidup kok ya tetap susah, ada yang patuh dan baik hati, ada yang temperamental, dsb. Ia mengakui di masa tuanya kini ia semakin sadar bahwa ketika ia menjadi kepala rumah tangga dahulu ada beberapa peran yang tidak berjalan dengan tepat.

Saat mendengarkan hal tersebut, saya menjadi teringat akan sebuah lagu Jawa yang pada masa kecil dahulu yang sangat saya hafal liriknya yang berjudul Gundul-Gundul Pacul.

……

Gundul Gundul Pacul cul gemblelengan (gundul, gundul, cangkul, congkak)

Nyunggi nyungi wakul kul gemblelengan (membawa wadah nasi dengan congkak)

Wakul glimpang, segane dadi sak latar (wadah nasi tumpah, nasinya memenuhi lantai)

……

Tembang Gundul-Gundul Pacul di atas mempunyai makna yang dalam. Gundul adalah kepala tanpa rambut. Jadi bisa dimaknai kepala lambang kehormatan atau lambang kemuliaan. Rambut adalah mahkota keindahan kepala.Gundul berarti kehormatan tanpa mahkota. Sedangkan pacul/ cangkul adalah alat pertanian sederhana yang dipakai para petani yang terbuat dari besi dan berbentuk segi empat.Pacul ini melambangkan rakyat sahaya. Jadi permaknaan Gundul pacul berarti seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang akan diberi mahkota namun seorang pemimpin diberikan amanah untuk membawa pacul untuk bekerja bagi rakyatnya.

Dalam pemaknaan berikutnya pacul yang berbentuk segiempat itu dalam Jarwo dhosoknya berarti papat tan kena ucul/ empat yang tak bisa lepas. Jika ada bagian dari empat hal itu lepas maka bisa menyebabkan seorang pemimpin gagal dalam memimpin. Empat hal itu adalah ketika seorang pemimpin tidak bisa mengendalikan keempat inderanya yaitu mata, telinga, hidung, mulut secara bijak.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dalam kondisi apa seorang pemimpin dianggap gagal mengendalikan keempat inderanya yaitu ketika seorang pemimpin tidak menggunakan mata dengan benar yang bisa diartikan gagal dalam melihat kesulitan pada rakyatnya. Tidak bisa menggunakan telinga dengan benar berarti tidak bisa mendengarkan suara rakyat/ organisasi/ anggota kelompoknya, tidak mau mendengarkan nasehat-nasehat yang baik.

Berikutnya seorang pemimpin yang sudah bisa mencium hal-hal yang buruk masih dibiarkan dan tidak segera ditindaklanjuti lewat tindakan pencegahan/ preventif artinya fungsi hidungnya tidak baik. Dan terakhir mulut seorang pemimpinan yang gagal tidak digunakan untuk menyampaikan kata-kata dengan adil namun hanya berisi kebohongan dan pembelaan diri.

Jika keempat fungsi indera itu lepas, maka lepas pula kehormatan seorang pemimpin. Pemimpin bisa menjadi gemblelengan atau sombong, congkak, besar kepala, dan senang bermain-main menggunakan kehormatan dan kewenangannya. Dengan kondisi pemimpin yang demikian maka akan berakibatnya wakul glimpang (amanah yang diberikan rakyat bisa jatuh) dan segane dadi saklatar (berantakan, sia-sia, tidak bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat/ organisasi/ anggota kelompok.

Dari sekelumit cerita dalam rumah tangga dan intepretasi saya atas lagu di atas, sejatinya seorang pemimpin di dalam rumah tangga, organisasi, sampai pemerintahan harus bisa menjadi pengayom dan role model untuk orang-orang yang dipimpinnya.  Untuk itu semua seorang pemimpin membutuhkan keseimbangan dalam kedekatan dengan yang dipimpinnya, integritas, dan gairah, dan kompetensi.

Sebagai contoh perilaku pemimpin yang kebetulan suka berambut plontos alias gundul yang menurut saya positif adalah Pep Guardiola (pelatih Barcelona) saat menangggapi hasil seri pertandingan Barcelona melawan Espanyol. Ia mengatakan, “Kami harus menghindari kesalahan yang kami lakukan dan hal-hal yang menyulitkan tim ini. Kami harus melihat apa yang harus kami lakukan, bukan yang wasit lakukan. Di Barcelona begitulah kami harus melakukannya dan kondisinya akan terus seperti itu” (Pep Guardiola-detik.com). Disini Pep menunjukkan tanggung jawab pertama dan terpenting dari siapa saja yang dimandatkan untuk memimpin adalah untuk mengelola diri. Yang harus diolah pun sangatlah jelas yaitu integritas pribadi, karakter, etika, pengetahuan, kebijaksanaan, temperamen, kata-kata, dan tindakan. Kesemuanya adalah tugas yang kompleks, tak berujung, sangat sulit, dan sering dijauhi atau dihindari oleh seorang pemimpin.

Sebagai seorang pemimpin juga disadarkan bahwa kepemimpinan yang pertama dan terutama, dimulai di dalam dan bekerja keluar. Pengaruh kita terhadap orang lain terutama  tidak tentang kata-kata saat kita berbicara,namun tentang apakah hidup seorang pemimpin pantas diteladani dan diikuti. Maka tanggung jawab pertama dari setiap pemimpin adalah memimpin dirinya sendiri dengan baik.

Sebagai penutup, bagi anda yang telah mendapatkan mandat memimpin entah itu di dalam rumah tangga, di lingkungan, di dalam organisasi/ perusahaan, dan dalam pemerintahan diajak untuk mau membangun  keteladanan kepemimpinan Anda melalui proses pembelajaran, berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan penuh kasih sayang, peka akan intuisi dan reflektif. Dengan demikian bagi para pemimpin, itu berarti pemimpin bisa memberdayakan dan percaya pada tim yang ada. Bagi mereka yang dipimpin, itu berarti kebebasan untuk melakukan pekerjaan kreatif, untuk mengeksplorasi solusi baru dan untuk  belajar dari kesalahan mereka.

Semoga sukses selalu menyertai kita semua.

Catatan: Jarwo dhosok (keroto boso): penyingkatan kata dalam bahasa Jawa

 

Tulisan pernah dimuat di MDINews No:174/XVIII/Februari 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: