P.I.T Stop

By: TalentaKasih

Jan 16 2012

Tag:, ,

Kategori: management

Tinggalkan komentar

Aperture:f/2.8

Oleh: A. Irvinto Dobiariasto

Kalah atau menang setelah bertanding, ucapkanlah syukur kepada Tuhan (Film ‘Facing a Giants’)

Saat saya menulis artikel ini, Olimpiade Beijing baru berlangsung 7 hari. Sudah banyak rekor dunia terpecahkan. Dari lomba-lomba terukur seperti renang muncul banyak rekor baru dan catatan waktunya semakin cepat. Lihat saja apa yang dicapai Michaels Phelps, Liu Zige atlet renang China pertama yang berhasil mempersembahkan emas sekaligus menjadi pemegang rekor dunia gaya kupu-kupu 200 meter. Lihat pula hasil pemanah non unggulan Zhang yang meraih emas individual putri. Gentarkah ia dengan para pemanah unggulan lainnya, jika menilik hasilnya jawabnya adalah tidak. Lihat juga keinginan berhasil dari perenang 100 meter gaya bebas Perancis, Alain Bernard yang bisa mengatasi rasa takut kalahnya sehingga berhasil menembus kegagalan dimana sehari sebelumnya ia gagal di final estafet. Apakah para peraih emas tersebut mencapai hasil maksimal hanya dalam waktu sesaat saja. Lalu adakah hubungan antara pemanfaatan waktu dengan optimalisasi hasil dan pengasahan mental juara mereka?

Faith Baldwin menjawabnya dengan menyatakan bahwa waktu adalah salah satu bahan terpenting dalam kunci apa pun yang menunjang keberhasilan kegiatan manusia. Dibalik keberhasilan para peraih emas Olimpiade ada banyak pengorbanan lewat latihan berat, kerja keras dan waktu yang selalu dioptimalkan dan mencapai titik puncak di Olimpiade. Artinya jika waktu yang ada begitu pendek persiapannya plus ditambah banyak intrik, mungkin hasilnya bisa menjadi kegagalan seperti Taufik Hidayat yang harus gagal di babak awal bulutangkis olimpiade. Jangan hanya mencintai keberhasilan namun cintai kegagalan agar anda bisa meraih sukses.

Saya ambil ini dari inspirasi menonton film Facing A Giants, sebuah cerita keberhasilan dari sebuah tim football bernama Eagle yang tidak punya reputasi melawan tim Giants yang superior selama 6 musim. Ada 3 unsur yang kita petik disini, pertama adalah jangan terlalu perfeksionis. Tim Giants yang begitu besar anggota timnya dikalahkan oleh tim midioker seperti tim Eagle karena mereka terlalu perfeksionis. Sebelum kalah Pelatih Giants merasa yakin strateginya yang terbaik dan tersempurna ia begitu yakin timnya akan begitu mudah menang. Namun akhirnya ia kalah bukan karena lawan yang kuat namun karena ego yang terlalu tinggi terlalu memaksakan strateginya yang ‘sempurna’.

Kedua adalah jangan takut gagal. Awalnya pelatih Giants melihat tim Eagle yang dilatihnya penuh ketakutan akan gagal sehingga sering ragu di awal pertandingan. Michael J Losier menulis bahwa keraguan adalah getaran negatif, dan dia sering ditimbulkan oleh keyakinan penghambat. Takut gagal bisa menjadi penghambat kemajuan kita. Untung mereka punya pelatih yang bisa membangun tembok pertahanan dan menyakinkan mental juara ke timnya.

Dan terakhir adalah tidak mampu menerima kritik atau masukan. Pelatih Giants tidak mau mengambil strategi mencetak gol lewat tendangan yang diusulkan asistennya saat peluang juara sudah di depan mata. Akibatnya fatal yaitu kegagalan dan rasa malu. Namun lain dengan pelatih Eagle dimana di awal cerita menghadapi kegagalan dan hampir dipecat, namun karena ia mau mendengarkan kritik dan masukan ia bisa membangun sebuah tim yang solid.

Apakah semua waktu harus dihabiskan untuk berlatih keras? Jawabnya tidak. Kita semua perlu strategi khusus agar selalu prima. Anda pasti tahu strategi PIT stop di arena F1. Itu juga bisa kita lakukan. Strategi PIT stop artinya berhentilah sejenak dan lihatlah kembali Prinsip, Identifikasi dan Tehnik. Dengan cara ini Anda diharapkan mampu memegang prinsip untuk mencapai sasaran yang tinggi ala pembalap F1.

Anda harus berhenti sejenak untuk melihat bahwa seluruh keinginan Anda terhadap setting hidup Anda telah terpenuhi, sehingga saat anda mulai kembali bergerak kembali Anda tetap bisa mempertahankan ritme kecepatan dan mencapai hasil terbaik. PRINSIP inilah yang harus dijaga. Di PIT ini anda juga harus melakukan Identifikasi masalah yang terjadi termasuk perspektif Long term, Short term atau Middle term. Maksud perspektif long term adalah agar keberhasilan anda berdampak jangka panjang dan bukan efek sesaat namun berakhir dengan kegagalan seperti Maclaren Mercedes yang terjadi tahun lalu. Pertimbangkanlah kembali rencana-rencana jangka panjang Anda sehingga bisa menghidari efek-efek negatif jangka panjang.

Anda bisa juga memilih perspektif short term seperti penyiapan segala ban yang cocok dengan cuaca yang ada saat pembalap harus ganti ban, cukupnya bahan bakar untuk pembalap, dan menjaga kebersihkan saringan udara agar speed dalam lomba terjaga. Mungkin ada bagian atau perlengkapan baru yang bisa mengganti yang lama agar menunjang Anda. Jangan sampai karena terlalu efisien malah merugikan kita. Jika ada yang harus diganti ya wajib ganti.

Yang terakhir adalah perspektif middle term seperti program latihan dan setting ulang di tengah –tengah libur kompetisi. Kitapun juga harus menset up ulang diri kita dengan training, seminar, pendidikan sehingga terus bisa berkembang. Dan PIT terakhir adalah Tehnik. Uji kembali tehnik anda untuk mengarungi kompetisi yang keras sehingga yang harus kita lakukan adalah dengan persiapan yang sebaik-baiknya dengan tambahan kekuatan mental kaya hati. Selalu disiplin dalam menjaga ketepatan waktu dan jangan panik menghadapi batas akhir. Lihat saja model pekerja di PIT stop. Hal-hal tersebut sudah mereka siapkan. Ban, bahan bakar, pembersihan saring udara, petugas yang cakap dan trengginas sudah stand by. Secara teknis mereka SDM yang terlatih. Bisa mengganti ban dan mengisi bahan bakar dibawah waktu 9 detik bukankah itu catatan luar biasa.

Pit stop juga merupakan kendali strategi lain. Mungkin posisi anda saat inilah yang memegang kendali manajemen dan memerlukan waktu berpikir untuk memecahkan dan melihat semua kejadian. Maka, cobalah lakukan evaluasi, lakukan pengujian dan terus secara kontinu melakukan tes terhadap hasil kerja anda dan tim. Yang jangan dilupakan adalah kembali selalulah berusaha menerima serangan-serangan/ kritik dengan membuat catatan. Kerjakanlah apa yang anda catat dan catatlah apa yang anda kerjakan.

Sebagai penutup, di setiap arena lomba dan even-even kompetisi olahraga apapun selalu ada yang bisa kita ambil hikmahnya. Namun salah satu hal yang menurut saya paling penting adalah mau meluangkan waktu untuk berhenti sejenak dan menghargai apa saja. Yang penting adalah kualitas perasaan yang menyertai ungkapan penghargaan itu. Penghargaan dan rasa syukur membantu anda memancarkan getaran-getaran positif yang dasyat dan akan membantu anda dalam langkah-langkah ke depannya. Salam sukses.

Daftar bacaan: Michael J Losier. 2006. Law of Attraction.UFUK Press

(artikel ini sudah pernah dipublikasikan di MDI News bulan Agustus 2008)

Gambar diunduh dari http://allenonf1.files.wordpress.com/2009/05/ferrari-pitstop1.jpg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: