KEPEMIMPINAN BERINTEGRITAS

By: TalentaKasih

Jan 16 2012

Kategori: management

Tinggalkan komentar

oleh: A. Irvinto Dobiariasto

Saat kita merasa takut, semua hal menjadi rumit. (Sophocles)

Beberapa ekor lalat nampak terbang di atas tong sampah di depan sebuah rumah. Suatu saat anak pemilik rumah keluar dan tidak menutup kembali pintu kaca rumahnya. Kemudian seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju meja makan yang penuh dengan makanan, “Saya bosan dengan sampah-sampah, saatnya menikmati makanan segar.”

Setelah kenyang si lalat bergegas terbang menuju pintu saat dia masuk, namun pintu kaca telah terutup rapat. Ia hinggap sesaat di kaca pintu memandangi kawan-kawannya. Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca, dengan tak kenal menyerah ia mencoba keluar dari pintu kaca. Lalat itu semain panik, ia merayap mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik demikian terus dan terus berulang-ulang. Hari makin petang si lalat itu nampak kelelahan dan kelaparan dan esok paginya ia sudah terkulai lemas (terkapar) di lantai.

Tak jauh dari tempat itu, serombongan semut merah berjalan beriring keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Ketika menjumpai lalat yang tak berdaya itu, beramai-ramai mereka menggigit tubuh lalat itu hingga mati. Kawanan semut itu pun segera mengangkut bangkai lalat malang itu ke sarang mereka. Dalam perjalanan seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua,”Ada apa dengan lalat ini?”

“Oh.. ini sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini. Sebenarnya mereka ini telah berusaha, dia sungguh-sungguh telah berjuang keras berusaha keluar dari pintu kaca itu, namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelelahan hingga akhirnya jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita.”

Semut kecil itu manggut-manggut, masih penasaran ia bertanya lagi, “Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras? Kenapa tidak berhasil?”

Masih sambil berjalan dan memangggul bangkai lalat, semut tua itu menjawab, “Lalat itu makhluk yang tak kenal menyerah dan telah mencoba berulang kali. Hanya saja dia melakukannya dengan cara-cara yang sama.” Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan perkataannya namun kali ini dengan mimik & nada lebih serius, ” Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama, namun mengharapkan hasil yang berbeda, maka nasib kamu akan seperti lalat ini.”

Cerita ini saya sadur dari inbox email seorang rekan. Sebuah kesimpulan yang bisa kita ambil dan juga pernah dinyatakan oleh Walt Kelly yaitu kita telah menemukan musuh, dan ternyata musuh terbesar adalah diri kita sendiri. Lihatlah sang lalat, ketika ia terlalu bernafsu mengejar kesejahteraan dirinya yang sangat hedonis, maka ia lupa akan hal yang harus dia kejar yaitu kesejahteraan dari dalam yang bersifat abadi (parenial).

Ketika seorang pemimpin mencontoh fabel lalat tadi maka yang terjadi ia gagal menunjukkan karakter kepemimpinan yang dikagumi seperti berintegritas, membangkitkan semangat, berorientasi ke depan (visioner), kompeten, komunikator dan berorientasi kepada manusia. Karakteristik kepemimpinan yang dikagumi itu akan mendukung seorang pemimpin untuk dapat menunjukkan dan mengembangkan aktivitas orang lain lewat pengarahan dan latihan (coaching and conseling).

Seorang pemimpin secara internal melatih diri karakter kepemimpinannya sehingga dapat konsistensi dan disiplin. Dan dalam hubungan eksternal dengan kelompok (organisasinya) dilakukan dengan membangun teamwork, saling percaya, saling menghargai dan melihat aspek-aspek manusia lainnya sehingga mempengaruhi kelompoknya untuk berkembang bersama hingga tercapainya tujuan kelompok. Oleh karena itu diperlukan kemampuan untuk menunjukkan keaslian diri sendirinya. Semakin sering kita memalsukan diri kita dan menjadi orang lain maka kita tidak bisa integral dan berdamai dengan diri kita sendiri. Sekali lagi menjadi diri sendiri adalah bagian integral dari pilihan untuk berintegritas dan ketika kita tidak bisa menjaga integritas yang sering muncul adalah masalah. Banyaknya contoh dari para leader baik politisi, pengusaha, tokoh publik di berbagai belahan dunia yang harus kehilangan kekuasaan, waktu yang terbuang percuma, energi dan uang karena tidak bisa menjaga integritas diri dan anggota organisasinya.

Kelekatan pada integritas menjadi landasan bagi seorang leader untuk bisa mengetahui apa tindakan berikutnya, mengetahui mengapa tindakan itu penting dan mengetahui bagaimana menggunakan sumber-sumber yang ada dengan proporsional. Dengan demikian integritas mendorong dan dapat menciptakan energi yang penuh gairah dikarenakan kita tahu kemana visi dan misi kelompok sehingga tercipta lingkungan kerja yang sarat kehidupan, penuh energi dan kaya kreativitas. Gairah ini menyebabkan munculnya pancaran aura yang bersinar (wajah yang berseri) seperti yang terpancar dari wajah Paus Yohanes Paulus II dan Bunda Teresa. Apabila integritas tidak bisa dijaga akan muncul kegelisahan dan kurang konsentrasi yang akhirnya menguras energi.

Akibat lanjut dari terkurasnya energi adalah terganggunya hubungan dalam membina jejaring sejati atas relasi kita. Tanpa integritas yang ada hanya kebohongan dan ketidakjujuran. Hal ini seringkali diturunkan tanpa sengaja dari beberapa tindakan orang tua kita. Contoh sederhana saja tanpa sadar orang tua mengajarkan white lie seperti saat dicari oleh orang tertentu mereka meminta anaknya untuk mengatakan bapak tidak ada di rumah sedang ke luar kota. Padahal bapaknya ada di rumah. Pengaruh buruk pada integritas anak di kemudian hari adalah berbohong tidak apa-apa atau berbohong boleh asal dalam keadaan terpaksa. Dikemudian hari anak menjadi munafik karena ia sudah ada dalam lingkungan yang mengajarkan kemunafikan.

Penerapkan integritas yang benar berimbas pada kemudahan dalam membangun pengaruh. Hal tersebut karena pemimpin didorong untuk berinisiatif membuka diri terlebih dahulu, berempati saat mendengarkan keluhan anggota, respek dan peduli pada kebiasaan mereka, bisa memahamilah kekuatan dan kelemahan anggota kelompok terlebih dahulu sebelum ingin dipahami, dan bisa memberikankanlah penghargaan/ dorongan tulus.

Dengan demikian membuat hidup menjadi lebih mudah dan semakin mudah. Integritas membuat pemimpin tidak lagi memerlukan otoritas yang lebih tinggi untuk tahu mana yang baik dan yang buruk. Contoh seorang pemimpin tidak perlu sembunyi-sembunyi untuk terima order besar dari pemerintah kalau sudah tahu nantinya nilai proyek harus digelembungkan, jadi tolak saja. Saat diperiksa KPK sudah tenang dan aman.

Sebagai penutup Joel K. Leidsker dan James J Hall menyatakan sebagian orang sulit memotivasi diri sendiri maka tidak heran bahwa memotivasi orang lain adalah tugas yang sulit. Pemimpin yang berintegritas menjunjung sikap apa adanya pada diri sendiri, orang lain dan tidak munafik, yang pada akhirnya dapat membangun pengaruh pada organisasinya. Disini tercipta hubungan yang lebih manusiawi, terwujudnya harmonisasi kehidupan pribadi dan bisnis, dan semakin meningkatnya tanggung jawab seorang pemimpin pada masyarakat dan lingkungan. Latih integritas diri dan Salam Sukses!!

 

Pustaka: Gay Hendricks, Kate Ludeman. 2003. The Corporate Mystic. Kaifa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: