BELAJAR DARI JOSEP GUARDIOLA (interpersonal excellence)

Oleh: A. Irvinto Dobiariasto

Minggu dini hari tanggal 10 Desember 2011 saya menonton pertandingan sepakbola el clasico jilid 1. Laga Real Madrid vs Barcelona berakhir 1- 3 untuk kemenangan Barcelona. Yang menarik bagi saya selain serunya laga tersebut adalah satu figur dibelakang layar Barcelona yang dalam 3 tahun tugasnya di Barcelona telah mempersembahkan 13 gelar (yang terakhir Piala dunia antar klub) bagi Barcelona, dialah Josep Guardiola.

Sukses, puja dan puji dari pencapaiannya saat ini adalah  hasil dari sebuah komunikasi yang efektif di dalam dan di luar lapangan. Sikap, gaya berpendapat, dan perilaku pemain Barcelona menunjukkan bahwa mereka sangat respek dengan model kepelatihan Josep Guardiola. Apa yang saya simpulkan kemudian ialah bahwa seorang Josep Guardiola adalah pelatih dan komunikator yang efektif karena ia telah menunjukkan beberapa hal berikut:

1. Keterbukaan (Openness)

Dalam sebuah wawancara tentang kunci suksesnya di Barcelona ia menjawab, “Saya bukan polisi. Saya tidur jam 10  tepat dan saya tak punya keinginan memaksa dan memeriksa pemain saya. Itulah mengapa saya memilih mereka tetap berada di rumah dan tidak mengurungnya di hotel sementara mereka tidak melakukan apapun.”

“Kami hanya mencoba menggunakan akal sehat kami. Anda tahu kenapa kami selalu meraih hasil bagus? Itu dia jawabannya: Akal sehat.”

Analisa saya dari jawaban itu adalah Guardiola cukup terbuka kepada orang yang diajaknya berinteraksi. Ia bersedia untuk membuka diri mengungkapkan informasi yang biasanya disembunyikan, dan pengungkapan diri dirinya juga dilakukan secara patut.

Berikutnya ia juga bereaksi secara jujur terhadap stimulus yang datang. Ia memperlihatkan keterbukaan dengan cara bereaksi secara spontan terhadap orang lain.

Selanjutnya pelatih yang sering dipanggil Pep ini juga mempunyai  “kepemilikan” perasaan dan pikiran. Ia secara jelas mengakui bahwa perasaan dan pikiran yang dilontarkannya adalah tanggungjawabnya. Ia telah menunjukkan cara terbaik untuk menyatakan tanggung jawab ini adalah dengan pesan yang menggunakan kata Saya (kata ganti orang pertama tunggal).

2. Empati (empathy)

Berempati adalah merasakan sesuatu seperti orang yang mengalaminya. Orang yang empatik mampu memahami motivasi dan pengalaman orang lain, perasaan dan sikap mereka, serta harapan dan keinginan mereka untuk masa mendatang. Kita dapat mengkomunikasikan empati baik secara verbal maupun non verbal.

Seperti terlihat di lapangan saat dalam tekanan luar biasa di Santiago Bernabeu, dimana pasukan “El Barca” kebobolan lebih dulu akibat kesalahan kiper Victor Valdes di menit awal. Jika diperhatikan dengan seksama Guardiola berkomunikasi secara non verbal, ia berkomunikasi dengan empati yang memperlihatkan keterlibatan aktif dengan para pemain di lapangan melalui ekspresi wajah dan gerak-gerik. Kemudian konsentrasi terpusat meliputi kontak mata, postur tubuh yang penuh perhatian pada saat memberikan arahan ke pemain-pemainnya.

Selanjutnya seperti yang telah terjadi Carles Puyol dan kawan-kawan berhasil menahan gempuran bertubi-tubi dari “El Real” dan berbalik menguasai permainan pada menit-menit selanjutnya. Ia pun memuji ketegaran para pemainnya saat melawan Real Madrid. Ketegaran itulah yang membuat mereka berhasil memukul balik tuan rumah.

3. Sikap mendukung (supportiveness)

Hal lain yang membuat Guardiola senang adalah sikap para pemainnya yang tetap mempertahankan gaya bermain menyerang seperti yang mereka lakukan selama ini. “Kami mengendalikan permainan dan serangan balik musuh kami. Kami menciptakan lebih dari cukup peluang mencetak gol,” kata Guardiola sebagaimana dilansir situs klub.
“Saya mengagumi ketabahan pemain. Mereka sangat berpengalaman, baik fisik maupun mental, dan mereka tahu bagaimana bangkit dalam permainan,”

Guardiola telah meletakkan hubungan interpersonal yang efektif yang terdapat pada sikap mendukung (supportiveness). Komunikasi yang terbuka dan empatik tidak dapat berlangsung dalam suasana yang tidak mendukung. Ia memperlihatkan sikap mendukung dengan bersikap  deskriptif, bukan evaluative; spontan, bukan strategic; dan provisional, bukan sangat yakin karena ia tahu bahwa sebuah tim perlu bermain sangat bagus untuk menundukkan Real Madrid di Santiago Bernabeu.

4. Sikap positif (positiveness)

Dalam komentar wawancara lainnya Josep Guardiola menyatakan, “Saya tidak pernah khawatir dengan skuad yang terbatas. Pada faktanya, memiliki daftar pilihan (pemain) yang pendek mungkin lebih baik bagi kami daripada lebih banyak, terutama karena saya memiliki para pemain berkualitas yang siap untuk dipanggil. Saya benar-benar percaya pada tim ini dan filosofi saya adalah selalu ada solusi untuk setiap masalah.”

Sikap positif ini saya nilai sangat baik karena Josep Guardiola telah membina komunikasi interpersonal sehingga para pemainnya memiliki sikap positif terhadap diri mereka sendiri. Efeknya, perasaan positif itu sangat penting untuk interaksi di lapangan walaupun dalam kondisi tertekan.

5. Kesetaraan (Equality)

Ketika surat kabar Superdeporte memberitakan keretakan telah terjadi pada Messi dan Villa dimana Messi dianggap lebih diistimewakan sehingga Villa lebih sedikit mencetak gol, kabar itupun dengan cepat disangkal Guardiola. “Barcelona bukan hanya Messi, kami adalah satu kesatuan dan pemain satu dengan pemain satunya saling berhubungan erat dan saling membantu. Bukan hanya spesial pada satu orang saja. Toh jika salah satu diantara mereka, itu merupakan cacat untuk kami. Kami membutuhkan mereka semua. Kami semua adalah saudara dan itu sudah pasti”, bebernya. Di sini saya melihat Guardiola ingin menunjukkan bahwa kesetaraan itu dengan memberikan ”penghargaan positif tak bersyarat” kepada antar anggota timnya.

Visca Barca!!

Sumber bahan diambil dari artikel dan wawancara di kompas.com dan detik.com

Penulis adalah penikmat tontonan sepakbola

Gambar diunduh dari http://i.dailymail.co.uk/i/pix/2009/12/26/article-0-07AAAB95000005DC-611_468x324.jpg

Artikel pernah dimuat di majalah MDINews edisi No. 173/XVIII/Januari 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: