Layang-Layang

By: TalentaKasih

Jan 02 2012

Kategori: Renungan dan Motivasi

3 Komentar

 

Beberapa waktu lalu saat musim layangan tiba di Wonosobo, saya menemani anak saya Ivo Lvito bermain layang-layang dengan papanya…Sungguh mengasyikkan melihat keduanya bermain. Ivo terlihat sangat antusias. Menerbangkan layang-layang adalah sesuatu yang baru baginya. Ivo suka-suka bergaya dalam memainkan layang-layang.

Ia terkadang histeris ketika layang-layang mulai tidak dapat angin, “Papa…layang …tulun…layang…Papa”. Benangpun beralih ke papanya. Dengan ketrampilan papanya, layang-layang itu naik kembali. Ivo terlihat senang kalau layang-layang sudah tinggi lagi. Ketika ditinggal sebentar papanya untuk minum, ia melepaskan kaleng dan benang layang-layang, padahal angin sedang bertiup kencang. Akhirnya kaleng dan benangnya melayang dan tersangkut di kabel listrik. Selesai sudah acara bermain layang-layangnya.

Tapi apa nilai tambah yang bisa kita petik dari bermain layang-layang, pikir saya….

Beberapa waktu kemudian saya menemukan artikel/ renungan tentang layang-layang yang bisa kita simak di bawah ini:

……………………………………………

Di suatu sore, tampak beberapa anak sedang bermain layang-layang.

Salah satu layang-layang berkata dalam hatinya,”Aku kesal. Aku mau terbang setinggi-tingginya tanpa ada yang menahan, tapi kenapa aku harus diikat dengan benang? Aku jadi tidak bisa terbang dengan bebas!

Angin pun lalu bertiup kencang, lalu layang-layang tersebut berkata,”Ah, anginnya kencang. Aku akan mendekati layangan lain, supaya benangku bisa putus dan aku dapat terbang tinggi!
Maka dengan dorongan angin, si layang-layang pun berusaha mendekati layangan lain dan membiarkan benangnya bergesekan dengan benang mereka. Sesaat kemudian, benangnya putus!

Akhirnya putus juga! Sekarang aku bisa terbang semauku dan naik tinggi sesukaku! ” kata layang-layang tersebut dengan gembira

Tapi kemudian, apa yang terjadi?

Lho?!? Kenapa ini? Kok aku jatuh?” kata layang-

layang tersebut dengan herannya.

Krosak! ” Layang2 itu jatuh dan tersangkut di atas pepohonan

Ah, aku tersangkut! Kenapa begini? Bukannya terbang tinggi, aku malah tersangkut di pepohonan. ” kata si layang-layang sedih

Sekarang aku tahu“, lanjut si layang-layang,”Justru karena aku terikat benang, aku bisa tetap melayang di udara. Ternyata benang itu yang membuat aku bisa tetap terbang.

Hati manusia sama seperti layang-layang tersebut. Pada dasarnya manusia ingin hidup bebas sesuka hati dan tidak mempedulikan nasihat serta didikan. Sering kita pikir nasihat dan didikan adalah sesuatu yang mengekang, padahal kedua hal itu sebenarnya sama seperti benang pada layangan: itulah yg membuat kita tetap terbang dan berhasilSaat hati kita akan membuat pilihan yang salah, benangnasihat dan didikanmenarik kita untuk tetap ada di jalan yg benar.
Saat hati kita mulai sombong karena ada di puncak keberhasilan, benangnasihat dan didikanmenarik kita kembali untuk rendah hatiNasihat dan didikan bisa didapat dari sekeliling kita, tapi yang terutama adalah dari TUHAN, karena TUHAN adalah sumber nasihat dan didikan yang paling benar. Biarlah hati kita selalu terbuka untuk nasihat dan didikan, sehingga kita dapat tetapterbang melayang’.

3 comments on “Layang-Layang”

  1. sebuah metafora yang sangat reflektif. Dan setiap orang pasti punya benang, tinggal bagaimana menyadari keberadaan benang tsb.

  2. Ivo sudah kenal dan menerbangkan layang-layang dari umur 2 tahun. Persis sama dengan umur papanya mulai kenal layang-layang saat masih tinggal di Batang.

  3. Ya. Tuhan itu seperti sebuah asuransi oto, kita nggak bakal bingung atau kawatir dengan kondisi mobil. mau ditabrak atau nabrak, ga bakal bingung ngurusin penyoknya. sudah ada yang ngasih garansi…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: