Benih Padi

Suami saya mengirimkan kisah ini untuk segala kegelisahan yang terjadi, katanya agar bisa menjadi penguat setiap langkah. Coba kita renungkan bersama

…………………….

Pak Tani menyelenggarakan upacara selamatan menjelang musim tanam. Ia mengambil sebagian padi untuk hiasan upacara dan sebagian lagi unuk disiapkannya sebagai benih untuk ditanam. Biji padi yang dijadikan benih ternyata cemburu dan berkeluh kesah kepada Pak Tani. “Pak Tani tidak adil!! Mengapa hanya sebagian teman kami yang Bapak pilih untuk dijadikan hiasan? Lihatlah, mereka dikagumi dan dipuji-puji banyak orang, sedangkan kami sama sekali tidak diacuhkan. Pak Tani sungguh tidak adil!”

Pak Tani mendengarkan keluh kesah mereka namun tidak menjawab. Ia malahan segera mengangkut mereka dan melemparkannya ke berbagai penjuru sawah, ke tengah-tengah tanah becek yang kotor. Benih padi semakin sedih.

Beberapa hari kemudian, Pak Tani menjenguk sawahnya dan menyapa benih padi. “ Selamat pagi, Benih Padi. Apa kabarmu?”

”Pak Tani, mengapa kami dibuang ke tanah kotor ini? Apa salah kami? Kami kedinginan dan kepanasan, tapi kaubiarkan kami. Wajah kami kini jadi rusak. Lihat, ada banyak serat akar tumbuh pada tubuh kami. Tolong angkat dan bersihkan kami, Pak Tani!”

”Kutolong kami, Benih Padi,” Jawab Pak Tani.

Akan tetapi, Pak Tani tidak juga mengangkat atau membersihkan benih-benih padi itu. Berhari-hari ia tetap membiarkan benih padi tinggal ditanah yang becek dan kotor. Dibiarkannya pula akar yang tumbuh semakin banyak. Bahkan, yang tumbuh bukan hanya akar, melainkan juga batang dan daun semakin lebat hingga suatu saat benih padi itu lenyap tak berbekas.

Sawah itu kini menguning, penuh dengan tanaman padi yang berbulir lebat. Banyak orang mengagumi keindahannya dan banyak orang yang membutuhkannya. Pak Tani datang menjenguk benih padinya.

“Benih Padi, bagaimana kabarmu hari ini?”

“ Pak Tani, terima kasih atas pertolonganmu,” kata benih padi yang kini berubah menjadi tanaman yang berbuah lebat.

Refleksi :

Dari cerita diatas dapat diambil kesimpulan, benih padi adalah diri kita dan Pak tani adalah Tuhan. Tuhan menempatkan kita di suatu tempat yang merupakan bentuk kasih sayang Tuhan kepada kita. Bukan Tuhan tidak peduli ketika kita tidak merasa nyaman di tempat itu dan membiarkannya, akan tetapi Tuhan ingin kita menjadi pribadi yang baik dengan kita melewati semua cobaan tersebut. Dan kita akan tahu ketika kita telah berhasil menghadapi cobaan tersebut, kita menjadi manusia yang baik dan kuat. Laksana padi dengan bulir yang lebat

 

 

 

Sumber: http://www.hariansobek.com/2011/06/renungan-hariansobek-benih-padi.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: