Sudahkah kita menikmati hidup? (sebuah renungan)

By: TalentaKasih

Nov 29 2011

Kategori: Renungan dan Motivasi

5 Komentar

Stasiun Metro, Washington DC.
Pada suatu pagi yang dingin di tahun 2007, seorang pria memainkan karya Bach menggunakan biola selama 45 menit. Dalam rentang masa itu, kira-kira 2000 orang melalui stasion padat tersebut, kebanyakan dalam perjalanan ke tempat kerja.
Setelah bermain selama 3 menit, seorang paruh baya memperhatikan permainan musik pria tersebut, sempat melambatkan langkahnya bahkan berhenti sesaat kemudian bergegas melanjutkan perjalanan untuk menepati jadwalnya.
4 menit kemudian, pemain biola ini menerima satu dollar pertamanya, dari seorang wanita yang melemparkan uang ke dalam topi, tanpa berhenti dan terus berjalan.
6 menit kemudian, seorang anak muda mendengarkan permainannya sambil bersandar di dinding, kemudian melanjutkan perjalanan setelah melihat jamnya.
10 menit berlalu, seorang anak kira-kira berusia 3 tahun berhenti, tapi segera didesak ibunya agar berjalan lebih cepat. Saking penasarannya si anak berhenti dan di desak lagi beberapa kali, kemudian sambil berjalan, ia menolehkan kepala untuk mengintip aksi si pemain biola. Kejadian ini terlihat dilakukan oleh banyak anak-anak dan mereka juga di desak oleh orang tuanya untuk berjalan lebih cepat.
Selama 45 menit, pria tersebut bermain biola tanpa berhenti. Hanya 6 orang yang berhenti dan mendengarkan sejenak. Kira-kira 20 orang memberikan uang tapi terus berjalan. Dan pria tersebut mengantongi 32 dollar.
1 jam kemudian, ia berhenti beraksi dan suasana menjadi hening. Tidak ada seorang pun yang menyadari, tidak ada tepuk tangan, apalagi penghargaan.
Dan 2 hari kemudian, Bell tampil di gedung pertunjukan Boston dimana tiketnya terjual habis dengan harga rata-rata per kursi adalah 100 dollar.
Ini adalah kisah nyata, Joshua Bell memainkan biola di Stasiun Metro atas peran serta harian Washington Post sebagai bagian dari penelitian mengenai persepsi, rasa dan prioritas manusia.
Pertanyaan yang diajukan:
1. Di suatu lingkungan umum pada waktu yang kurang tepat, apakah kita menyadari keindahan?
2. Apakah kita berhenti untuk menghargainya?
3. Apakah kita menghargai bakat pada saat yang tidak disangka-sangka?
Satu kesimpulan yang mungkin diperoleh dari penelitian bisa jadi: jika kita tidak punya waktu untuk berhenti dan mendengarkan permainan salah satu musisi terbaik di dunia, yang memainkan salah satu karya terbaik yang pernah ditulis, dengan salah satu peralatan musik terbaik… berapa banyak yang yang sudah kita lewati dalam hidup ini?
(mungkin kita pernah bahkan sering seperti ini?)
Waktu terus berjalan, kita menjadi tua tanpa terasa, mari nikmati hidup, pelankan langkah dan nikmati aroma bunga mawar.
Diterjemahkan dari artikel yang dikirimkan oleh seorang kerabat keluargaRead more at: http://www.ikadanewsonline.com/2011/11/renungan-sekaligus-aneh-dan-lucu.html

5 comments on “Sudahkah kita menikmati hidup? (sebuah renungan)”

  1. terus mencoba menjadi manusia yang lebih baik dari hari ke hari dan tidak terkungkung rutinitas saja dengan cara sederhana

    • menikmati dengan cara masing-masing…melihat segalanya dengan kacamata indah dan bersyukur

  2. wah menarik nih

  3. Ya, terkadang kita lupa, untuk menikmati detik demi detik yang kita lewati, dikarenakan rutinitas pekerjaan dlsbnya. Sungguh artikel yang membangkitkan semangat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: