Psikologi Perkawinan: Saling Menerima Kelemahan Pasangan Apa Adanya

Dalam beberapa kali saya dan suami kesempatan memberikan salah satu materi kursus persiapan perkawinan (KPP) di Gereja Santo Paulus Wonosobo, saya mengajukan pertanyaan pertama begini, “Apakah kaliah harus menerima kelemahan pasangan apa adanya?”

Dengan penuh semangat mereka menjawab, “Pasti dong Bu! Masak nanti sudah jadi suami isteri nggak mau meneriman kelemahan pasangan!”

Suami saya tersenyum, namun saya tidak mengomentari, tapi saya bertanya lagi, “Sampai kapan kalian akan saling menerima kelemahan apa adanya?”

Dengan mantap tanpa ragu ragu, mereka pun menjawab, “Yah pastilah kami mau menerima kelemahan sampai maut memisahkan seperti nanti kami ucapkan di janji pernikahan.”

Saya masih juga belum berkomentar, tapi memperdalam jawaban, “Kalau begitu, “Apa jaminan kalian, kok bisa mengatakan mampu saling menerima kelemahan pasangan sampai akhir hayat? Kalau orang hutang di Pegadaian, jaminannya bisa sertifikat tanah, dsb. Kalau kalian bertekad mau menerima kelemahan “apa adanya”, jaminannya apa?

Pasangan-pasangan itu lalu bekerut dahi. Namun salah satu dari mereka berusaha menjawab, “Bu, jaminan kami ya percaya saja pada pasangan, dan ingat janji nikah!”

Saya mulai menggugat jawaban mereka, “Ah apa benar, saya kok tidak yakin!! Coba sekarang kalau kenyataannya begini. Misalnya, kalau suamimu ini sering tidak bisa bangun malam, padahal sebagai ibu, kamu sudah capek, dan tidak bisa bergantian jaga untuk ganti popok anakmu, apakah sebagai ibu, kamu akan diam saja atau mau protes atau marah?”

Pihak calon isteri langsung saja spontan menjawab, “Yah kalau begitu, mana bisa Bu, pasti saya juga marah!’

Saya langsung tertawa, sambil menyahut, “Nah, lho…baru saja tadi kalian bilang mau menerima kelemahan apa adanya, kok sekarang berbeda jawabanmu?

Coba saya tanya pada calon suami nih, “Mas, kalau isterimu judes dan galak, selalu saja komentar dengan cara berpakaianmu, caramu makan, dsb, kira kira kamu terima apa nggak diperlakukan begitu oleh isterimu nanti?”

Spontan, calon suami tadi langsung menyahut, “Yahhhh Bu, harapannya tidak seperti itu, tapi kalau terjadi, mana saya bisa terima kelemahan isteri saya!”
Kami berdua lalu menanggapi jawaban mereka, “Nah ternyata apa yang tadi kalian katakan tidak konsisten kan? Setelah dihadapkan pada contoh dan kenyataan yang akan terjadi, kalian sudah mengatakan “tidak bisa menerima kelemahan pasangan!”

Lalu Bagaimana cara MENGUBAH PARADIGMA KITA TENTANG KELEMAHAN MANUSIA, Kelemahan yang dianggap sebagai gangguan yang menggelisahkan, membosankan dan mengecewakan, dipahami sebagai “SAAT SAAT ISTIMEWA PENUH RAHMAT TUHAN untuk tumbuh dan berkembang sebagai pasangan hidup.

Biasanya kami meneruskan dengan berbagi tips prinsip 5 jari kepada mereka. Apa itu prinsip 5 jari:

Jempol :

Jempol itu jari yang paling besar dan letaknya di depan, jadi suami dan  istri harus bisa menjadi sumber inspirasi di lingkungannya. Ikut terlibat dan menjadi panutan yang baik buat anak-anaknya dan keluarga-keluarga lainnya. Janganlah mengisi hidup berkeluarga dengan percekcokan saja.

Jari Telunjuk

Jari telunjuk itu punya fungsi komunikasi di antara jari yang lainnya, seperti menunjuk sesuatu, mengacungkan tangan, minta interupsi, dll.

Contoh di kehidupan keluarga, kalau isterimu judes, galak dan cerewet, itu kesempatan bagimu sebagai suami untuk “dinilai, dikritik dan ditunjukkan kesalahanmu” Jadi nanti kalau habis bekerja, kalau ada kesalahpahaman, tanyalah pada isterimu, “Apa yang salah dalam diriku menurutmu, coba kamu nilai kerjaanku apa sudah baik apa belum!”

Jari Tengah:

Jari tengah itu jari yang paling lemah, mungkin karena dihimpit dari kanan dan kiri maka supaya kelemahan itu bisa diatasi dibutuhkan kerjasama. Kalau mau kerjasama solid ya harus dikomunikasikan. Contohnya kalau, suamimu sering bangun terlambat karena tidur larut malam, atau tidak bisa bangun malam untuk berganti jaga, tanyakan pada suamimu, “Mas, kalau kamu bangun terlambat, saya belajar untuk memahami bagaimana kamu capek seharian sudah kerja. Tapi saya juga jadi ingin tahu, apa Mas keberatan dengan tanggung jawab untuk berganti jaga malam hari mengganti popok? Kalau keberatan, katakan, ya itulah resiko yang harus aku tanggung! Namun, alangkah senangnya, kalau Mas bisa bangun pagi, atau bisa berjaga malam! Tapi itu harapanku!” Isteri belajar untuk mempelakukan suami menjadi “diri sendiri”.

Jari Manis (prinsip kasih)

Khusus yang ini kita berbagi lewat Korintus 13:4-8. Ingat bahwa KASIH ITU SABAR, KASIH ITU MURAH HATI, KASIH ITU TIDAK CEMBURU, KASIH ITU TIDAK MEMEGAHKAN DIRI, KASIH ITU TIDAK SOMBONG, KASIH ITU TIDAK MELAKUKAN YANG TIDAK SOPAN, KASIH ITU TIDAK MENCARI KEUNTUNGAN DIRI SENDIRI, KASIH ITU TIDAK PEMARAH, KASIH ITU TIDAK MENYIMPAN KESALAHAN ORANG LAIN, KASIH ITU TIDAK BERSUKACITA KARENA KETIDAKADILAN, KASIH ITU MENUTUPI SEGALA SESUATU, KASIH ITU PERCAYA SEGALA SESUATU, KASIH ITU MENGHARAPKAN SEGALA SESUATU, KASIH ITU SABAR MENANGGUNG SEGALA SESUATU, KASIH ITU TIDAK BERKESUDAHAN

Jari Kelingking

Jari kelingking adalah jari terkecil sehingga calon pasutri diingatkan untuk saling memberdayakan yang terkecil:

Contohnya nanti dalam hidup berumah tangga suami yang mengenal isterinya judes, ia tidak mau mengubahnya, melainkan menghargai dia dengan cara memberi kesempatannya menilai, dll

 

Dari pengalaman kami sebagai pasutri setelah pandangan itu diterapkan, ternyata mengurangi banyak percecokkan dalam keluarga. Kami bisa bergembira dalam hidup perkawinan, Tidak usah pusing saling mempersatukan perbedaan. Hidup pernikahan itu sungguh-sungguh rahmat istimewa.

 

 

Sumber Inspirasi tulisan http://renunganpagi.blogspot.com/2010/08/mitos-hidup-perkawinan-saling-menerima.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: