Bernegosiasi Dengan Klien Gagal Ginjal

By: TalentaKasih

Nov 15 2011

Kategori: management

1 Komentar

Aperture:f/5
Focal Length:35mm
ISO:1250
Shutter:1/10 sec
Camera:Canon EOS 40D

oleh: Fransiska Harrista Adiati, Psikolog, M.Psi

Salah satu tugas yang saya lakukan sebagai seorang psikolog di sebuah Rumah Sakit adalah memberikan pendampingan psikologis kepada para klien yang dirawat. Saya sebut sebagai klien, karena meski kondisi fisiknya memerlukan penanganan medis, namun secara psikologis mereka tetap ditempatkan sebagai subjek dan mempunyai peran besar dalam keberhasilan suatu proses pendampingan psikologis. Gagal ginjal merupakan salah satu jenis penyakit terminal, yang sulit sembuh dan akan dialami klien selama hidup mereka.

Tentu saja dengan kondisi semacam ini mereka membutuhkan pendampingan psikologis. Ada beberapa klien yang sudah dapat menerima kondisinya, bahkan mampu menjadi motivator bagi rekan-rekannya. Orang macam ini mempunyai daya bangkit untuk keluar dari keterpurukannya. Biasanya orang semacam ini mempunyai motivasi internal (motivasi yang tumbuh karena keinginan dan kebutuhan dari dalam diri) yang jauh lebih besar daripada motivasi eksternal (motivasi yang tumbuh karena adanya faktor dari luar diri).

Di satu sisi, masih banyak klien yang belum menerima kondisinya. Mereka berada pada masa denial (menyangkal), dan anger (marah). Denial dan anger merupakan dua masa awal dalam suatu perjalanan penerimaan terhadap suatu penyakit atau peristiwa emosional dalam kehidupan. Pada masa ini orang akan menyangkal bahwa masalah atau kondisi ini benar-benar dialami oleh mereka.

Pada masa ini, mereka juga marah terhadap kondisi yang mereka hadapi, rasa marah ini dapat ditujukan kepada diri sendiri, keluarga, lingkungan bahkan Tuhan. Dibutuhkan suatu empati dan pemahaman kondisi para klien agar dapat menyelami lebih dalam emosi yang dirasakan dan kebutuhan yang ingin dicapai.

Ny. X : gagal ginjal, menjalani cuci darah selama 2 tahun, merasa putus asa, karena tidak dapat beraktivitas di lingkungan masyarakat seperti sedia kala, awalnya ia adalah seorang aktivis masyarakat, karena kondisinya yang cepat lelah saat ini maka membuatnya tidak dapat pergi kemana-kemana, sebenarnya banyak rekan yang menawarkan untuk membantu mengantar namun ia merasa sungkan.

Tn. B : usia masih muda, gagal ginjal, menjalani cuci darah sudah 3 tahun, merasa marah dengan Tuhan, tidak mau berdoa lagi, menyimpan kekhawatiran tentang masa depannya. Dua kasus di atas adalah sedikit gambaran tentang kondisi klien.

Berikut adalah tahapan emosi dalam menghadapi suatu peristiwa / perubahan emosional pada diri individu (Kubler – Ross, dalam on Death and Dying, 1969) : 1. Anger 2. Denial 3. Bargainning 4. Depression and beginning aceptance 5. Aceptance

Sebenarnya dalam konseling didalamnya mengandung aspek negosiasi bergantung pada kondisi dan proses therapeutic yang diperlukan. Setelah melakukan konseling kepada Ny. X ada aspek negosiasi yang saya masukkan, yang mengarah pada Ny. X agar menerima ajakan rekan untuk diantar mengikuti aktivitas tertentu, menghilangkan rasa sungkan dengan berpikir fokus pada pemenuhan kebutuhan diri yaitu dapat kembali bersosialisasi dan berperan dalam lingkungan, selain itu lingkungan juga bisa mendapat dukungan dan perhatian dari Ny. X dengan hadir di dalam kegiatan mereka.

Kepada Mr. B, kasusnya memang lebih membutuhkan konseling dan pendampingan psikologis yang mendalam. Namun aspek negosiasi yang saya masukkan dalam pendampingan ini yaitu mengarah pada pemenuhan kebutuhannya. Selama ini ia merasa gundah, tidak tenang, merasa sendiri meski di keramaian. Saya fokuskan pada pemenuhan kebutuhan emosi tersebut, dengan berdoa maka Sang Maha Mendengar akan mendengarkan segala keluh kesah umatNya, memberikan ketenangan dan kelegaan. Pendekatan dan proses negosiasi dengan Mr. B memang berlangsung cukup lama. Namun akhirnya, hal ini berbuah manis, Mr. B sudah mau untuk berdoa lagi.

Insight yang saya peroleh selain dari berbagai macam teori negosiasi yang umumnya ada dan banyak dilakukan di kalangan industri, hal ini juga bisa dilakukan pada kasus seperti yang saya ceritakan di atas.

Negosiasi bukanlah hanya sebatas siapa yang lebih menurut dan siapa yang lebih dominan, namun lebih kepada pemenuhan kebutuhan dalam hal ini saya menjalankan fungsi profesionalitas saya dan ada kebutuhan untuk dapat mendampingi klien secara optimal, dan klien juga mempunyai kebutuhan terhadap regulasi emosi dalam penerimaan terhadap penyakit. Negosiasi ini membutuhkan waktu yang berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Dibutuhkan ketekunan, fokus dan senantiasa menumbuhkan harapan untuk lebih baik.

Sekali lagi bahwa jika niat negosiasi yang kita miliki itu baik (positif) untuk kedua belah pihak, maka negosiasi akan menghasilkan buah yang baik pula. Namun jika negosiasi hanya untuk kepentingan salah satu pihak dan diawali dengan niat yang tidak baik maka buahnya pun akan tidak baik pula.

One comment on “Bernegosiasi Dengan Klien Gagal Ginjal”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: