Managemen

Aperture:f/5.6
Focal Length:50mm
ISO:100
Shutter:1/200 sec
Camera:Canon EOS 350D DIGITAL

BELAJAR DAN BELAJAR

oleh: Fransiska Harrista Adiati

Apakah Anda ingin berkembang? Apakah Anda ingin berprestasi? Apakah Anda ingin yang terbaik untuk Anda? Lalu, apa yang telah Anda lakukan untuk memenuhi keinginan Anda?

Akan banyak sekali jawaban yang muncul, dimana hal tersebut merupakan upaya-upaya Anda dalam memenuhi keinginan. Apakah dari sekian banyak jawaban Anda terdapat sebuah jawaban yaitu BELAJAR? Jika ada kata tersebut dalam jawaban Anda maka saya katakan HEBAT. Namun, jika belum ada, segeralah masukkan kata BELAJAR dalam jawaban Anda, karena hal ini sangat penting.

Mungkin, bagi sebagian orang belajar adalah tugas anak-anak sekolah. Namun jika kita lihat maknanya lebih mendalam bahwa belajar akan kita lakukan sepanjang hidup kita. Yang membedakan adalah cara belajarnya.

Orang dewasa sudah mempunyai pengalaman dan pola kerja tertentu sehinga pembelajaran yang diberikan akan berbeda dengan seorang anak yang belum punya pengalaman apapun.

Orang dewasa menyukai hal-hal yang bermakna, oleh karena itu perlu disampaikan makna dibalik teori atau konsep yang disampaikan. Orang dewasa menyukai contoh konkret, oleh karena itu berikanlah contoh yang mudah dipahami dan lebih baik jika dekat dengan lingkungan sehari-hari mereka.

Orang dewasa mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi dan kaitannya dengan implementasi untuk lingkungan sekitarnya. Banyak orang dewasa yang memilih untuk kembali belajar di bangku sekolah. Tentu saja keputusan ini bukan hanya sekedar iseng atau terpaksa namun merupakan pilihan berani saat dirinya juga mempunyai tanggung jawab lain yang lebih besar seperti keluarga maupun pekerjaan.

Pilihan tersebut diambil karena mereka mempunyai kebutuhan untuk meningkatkan kualitas diri, memenuhi rasa ingin tahu dan mencari makna terhadap suatu pengetahuan.

Belajar dan mengajarkan apa yang dipelajari adalah proses pembelajaran yang paling efektif. Dengan demikian internalisasi materi pembelajaran akan berlangsung terus menerus.

Dalam pembelajaran orang dewasa, orang dewasa membutuhkan suatu pemahaman dan pemaknaan terhadap suatu konsep teori. Belajar adalah suatu panggilan bagi orang dewasa.

Bagi mereka yang berkecimpung di dunia pembelajaran hendaknya bukan sekedar merupakan mata pencaharian tetapi panggilan hidup (Life Calling). Dengan meyakini bahwa mengajar (sharing ilmu) merupakan panggilan hidup maka setiap kata, setiap perilaku dan setiap hal yang kita sampaikan akan benar-benar berasal dari dalam hati kita. Kepuasan yang tidak tertandingi oleh apa pun jika kita mampu memenuhi panggilan jiwa kita.

Mengajar juga bukan merupakan pekerjaan sambilan (setengah hati) tetapi pekerjaan yang penuh dedikasi (Full-hearted). Dengan demikian karya yang kita hasilkan adalah karya yang optimal, hasil dari segala daya upaya kita, untuk dipersembahkan demi kelangsungan dan perkembangan kualitas hidup manusia.

Pembelajaran bukanlah merupakan sesuatu yang langsung jadi tetapi harus diproses untuk mencapai yang terbaik (Process-based). Bukan hanya sebatas di pikiran, logika, intelektual tetapi merupakan pola/gaya hidup. Oleh karena itu berhasil tidaknya suatu proses pembelajaran dapat dilihat dalam perilaku yang nampak. Dari perilaku yang ditampilkan dapat tercermin seberapa optimal pembelajaran tersebut diserap dan dipraktekkan.

Orang dewasa kaya akan pengalaman hidup, namun pengalaman tersebut membutuhkan waktu dan energi untuk dapat dimunculkan kembali di alam sadar. Pada dasarnya setiap pengalaman dan pengetahuan yang pernah kita miliki, masih “bersama diri kita” meskipun kita “tidak lagi mengingatnya”. Jadi, mengapa kebanyakan kita harus bersusah payah untuk belajar dengan hasil mengecewakan untuk jangka waktu dan tenaga yang demikian banyak dikeluarkan?

Sampai akhirnya “pendidikan” itu didefinisikan sebagai “apa yang tersisa pada kita ketika kita melupakan semua yang pernah diajarkan”. Demua pengalaman yang kita miliki masih berada dalam memori kita. Tinggal bagaimana caranya agar ingatan tersebut dapat muncul kembali atau dapat dipanggil kembali.

Beberapa kiat jitu untuk memanggil/memunculkan pengalaman dalam ingatan kita adalah sebagai berikut:

Ubah fakta kering menjadi pengalaman tak terlupakan. Gunakan imajinasi dan libatkan seluruh indera Anda. Buatlah imajinasi Anda terhadap suatu hal menjadi lebih menarik yang dapat Anda kembangkan sendiri dan merupakan penjelasan kreatif dari hal tersebut. Tambahkanlah warna, gerakan dan ekspresi emosi yang menyertainya.

Kemukakan cara Anda mendalami hal-hal atau masalah penting kepada orang lain. Ceritakanlah kepada orang lain hal yang Anda ketahui dan ingin Anda ingat. Anda akan takjub terhadap diri Anda sendiri tentang kemampuan Anda memaparkan kepada orang lain.

Berujicobalah dengan masalah, bereksperimenlah, amatilah dan catatlah. Cobalah membuat masalah sulit yang Anda hadapi menjadi suatu masalah yang lebih besar atau lebih kecil. Bayangkan dalam pikiran Anda, dan bereksperimenlah terhadap masalah tersebut, dan bagaimana jika berubah seiring dengan waktu. Dengan memunculkan lebih banyak alternatif pikiran dan imajinasi maka Anda dapat memanggil kembali pengalaman Anda untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Ubahlah setiap pokok masalah yang tidak Anda mengerti menjadi suatu masalah (yang Anda mengerti). Lalu, pecahkanlah menurut kiat-kiat di atas. Gunakanlah cara di atas (cara 3) terhadap hal-hal yang belum Anda kuasai dengan baik, maka Anda akan segera menguasainya.

Pastikan Anda memahami suatu pokok masalah dengan menjelaskannya secara efektif kepada seseorang yang jauh lebih muda ketimbang Anda.

Seorang pendidik yang baik adalah yang mampu mengajarkan kepada orang lain sehingga orang lain menjadi lebih mampu dan berdaya karena pada dasarnya setiap ilmu dapat dipelajari oleh setiap orang asalkan sistem pembelajaran disampaikan dengan menggunakan kosakata konseptual masing-masing.

Dengan demikian prinsip belajar bagi orang dewasa cukup kompleks namun tidak terlalu sulit untuk dilaksanakan dan senantiasa digali. Dengan adanya kemauan untuk belajar dan mengajar maka pengetahuan itu senantiasa melekat di dalam diri kita.n

Sumber : Win Wenger, Ph.D. 2000.Beyond Teaching & Learning. Bandung : Penerbit Nuansa.

dari sudut desa wisata wonosobo

One comment on “Managemen”

  1. yang ini pernah dimuat di MDI news edisi Juni tahun 2008. jadi ingat saat itu lagi semangat-semangatnya cari sekolah pasca sarjana di Surabaya.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: