Kalimat Positif Dalam Relasi Interpersonal

Oleh : Fransisca Harrista Adiati, M.Psi, Psikolog

(pemerhati SDM, psikolog pada RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo)

 

Anak saya, usia 2 tahun 7 bulan, sudah sekolah play group. Senang rasanya melihat si kecil berlarian dan bermain bersama teman-temannya di sekolah. Tidak ada target khusus untuk anak saya, yang penting mau berteman dan bersosialisasi dengan lingkungan barunya. Seminggu tiga kali, dengan durasi setiap harinya adalah 2 jam. Setiap kali pulang sekolah, eyangnya selalu menyambut dengan kalimat, “Wah, capek ya sekolahnya.” Kalimat ini diungkapkan eyangnya sebagai tanda empati dan sukacita bahwa cucunya sudah sekolah dan merupakan anak yang hebat.

Bentuk empati seperti itu, juga sering dilakukan para orang tua kepada anak-anaknya. Pengungkapan seperti ini jika dilihat mendalam sebenarnya kurang tepat. Secara tidak sengaja sebenarnya kita sudah melakukan sugesti kepada anak bahwa sekolah itu capek. Jika setiap kali terdengar kalimat ini maka akan tertanam di alam bawah sadar anak bahwa sekolah itu capek, dan capek adalah sesuatu yang tidak menyenangkan maka otak akan merespon bahwa sekolah itu tidak menyenangkan. Sugesti ini akan membuat pikiran, jiwa dan fungsi tubuh merespon sebagai sesuatu yang negatif sehingga pada anak akan muncul wajah yang lesu, raut muka murung, tubuh yang lunglai, kaki yang lemas serta emosi yang tidak menyenangkan.

Nah, lalu bagaimana sikap orang tua yang tepat? Sebaiknya, dalam melakukan sebuah komunikasi kepada anak atau orang dewasa sekalipun, berikanlah energi positif yang mampu memberikan sugesti positif sehingga proses komunikasi pun mempunyai nilai tambah. Contoh kalimatnya adalah sebagai berikut : “Wah, menyenangkan ya di sekolah, bermain dan belajar bersama teman-teman.” Dengan memberikan kalimat positif ini kita mengirimkan energi dan sugesti positif kepada anak bahwa sekolah itu adalah sesuatu yang menyenangkan. Oleh karena itu pikiran, jiwa dan fungsi tubuh merespon secara positif seperti wajah ceria, badan tegak, raut muka bahagia, mata yang berbinar, dan emosi yang menyenangkan. Maka di alam bawah sadar akan tertanamlah sugesti positif ini. Demikian pula dalam bekerja, ketika kita mengatakan : “ Wah, capek ya kerja” atau  “Wah, tugasnya berat sekali ya.” Maka kita menanamkan di alam bawah sadar sugesti bahwa kerja capek, tidak menyenangkan, tugas berat maka kita akan benar-benar merasakan bahwa kerja itu capek dan tidak menyenangkan, demikian pula tugas yang kita lakukan akan sungguh-sungguh terasa berat.

Lalu bagaimana kalimat yang efektif? Sebaiknya menggunakan kalimat sebagai sugesti positif seperti, “Wah, pekerjaan ini terasa menyenangkan dan menantang, ayo kita selesaikan.” “Hari ini hari yang penuh dead line, membuatku terpacu dan semangat, ayo kalian pasti juga bisa menyelesaikan tugas ini.”

Ada orang yang senang sekali mengatakan, “Kamu pasti kesulitan menyelesaikan tugas ini”  Jika mendengar kalimat ini maka orang yang diajak bicara akan merasa down dan merasa tidak mampu. Sebaiknya kalimat yang diberikan lebih memotivasi dan memberikan energi positif misalnya, “Saya tahu tugas ini baru untuk Anda, namun saya percaya Anda akan berusaha dengan baik.”

Dalam melakukan pekerjaan sehari-hari, terkadang menimbulkan tekanan tersendiri dan menyebabkan timbulnya amarah, demikian pula ketika menjalin relasi dengan orang lain, memungkinkan ada perasaan kesal maupun jengkel. Ketika menghadapi situasi yang menekan seperti ini bagaimana kita harus berkata-kata dalam berkomunikasi dengan orang lain? Sebaiknya kalimat yang digunakan adalah suatu hasil proses pengontrolan diri terhadap emosi yang dirasakan sehingga tidak melukai orang lain maupun destruktif. Berikut adalah contoh kalimat yang dapat dipakai, “Saya menghargai jerih payah Anda, dan saya merasa kesal ketika Anda tidak memenuhi dead line yang sudah kita sepakati beberapa waktu lalu” ,“Saya sangat mengharapkan kerja sama Anda untuk tetap dapat memperbaiki hal ini” dan lain-lain.

Lalu bagaimana sikap kita jika orang lain menggunakan komunikasi yang berenergi negatif pada kita? Hal yang perlu kita lakukan adalah tetap rileks, atur nafas. Kita diberi anugerah dua buah telinga untuk mendengar dan kita juga diberi anuherah otak untuk berpikir secara jernih sebagai filter/ penyaring. Ambil komentar dari orang lain yang dapat membangun dan memperbaiki kiri kita meski dalam bentuk kritikan maupun pujian dan buang jauh-jauh komentar-komentar yang bernada menjatuhkan dan membuat pribadi kita tidak berkembang. Tetaplah berpikir positif karena seperti law of attraction, jika kita memberikan energy positif kepada lingkungan maka lingkungan akan mengembalikan dalam bentuk positif juga kepada kita melalui peristiwa apa pun yang kita alami. Demikian sebaliknya jika kita mengirimkan energy negatif kepada lingkungan maka lingkungan pun akan mengembalikan hal yang negative pula. Dunia ibarat cermin yang akan memberikan bayangan sesuai yang ia terima, maka pancarkanlah energy yang positif.

Dengan mengontrol emosi, maka perasaan menjadi lebih tenang, dapat berpikir dengan jernih dan dapat berucap dengan baik. Hal sederhana, mudah dilakukan dan membawa energi positif bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Semakin positif diri kita maka semakin positif pancaran energi kita untuk lingkungan, semakin positif lingkungan maka semakin banyak orang akan terpengaruh menjadi positif dan lingkungan pun menjadi kondusif serta produktif.

 

Selamat mengirimkan energi dan sugesti positif.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: